BP PAUD DIKMAS BANTEN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Menyelenggarakan Acara Parenting, Kelas Orang Tua Berbagi #7, Rumahku Sekolahku (25/11)

Kinar Lestari - Bharata Radio
26 Nov 2020 18:51 WIB
Kelas Orang Tua Berbagi #7, Rumahku Sekolahku (25/11), Mengelola Emosi Orang Tua Saat Mendampingi Anak Belajar Dari Rumah (BDR).

64

Saat ini Corona menjadi pembicaraan yang hangat. Di belahan bumi manapun, corona masih mendominasi ruang publik. Dalam waktu singkat saja, namanya menjadi trending topik, dibicarakan di sana-sini, dan diberitakan secara masif di media cetak maupun elektronik. Virus Covid-19 yang mulaimewabah di Indonesia sejak awal Maret membuat pemerintah memberlakukan kebijakan sosial distance.

Kebijakan tersebut juga berimbas pada dunia pendidikan. Melalui surat Pemerintah Daerah (Pemda) menerapkan kebijakan pembelajaran di rumah sekolah-sekolah yang daerahnya terdampak virus ini. Peraturan ini dikeluarkan untuk menekan penyebaran virus Covid-19. Kebijakan belajar di rumah pun turun di dukung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim dengan menurunkan Surat Edaran (SE) Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 mengenai Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus disease (Covid-19) yang dikeluarkan pada 17 Maret 2020 lalu.

 Ya, aktifitas belajar online atau daring menjadi sesuatu yang baru bagi anak-anak dan para orang tua. Banyak orang tua di luar sana yang mengatakan tidak mudah menyesuaikan diri dengan aktivitas ini. Berbagai tantangan harus dihadapi saat anak belajar dari rumah (BDR), terutama saat anak-anak merasa bosan dan tidak bersemangat belajar. Belum lagi kalau si kecil sengaja mengulur waktu saat menyelesaikan tugas. Ada saja alasannya seperti capek menulis, atau lapar ingin makan ini dan itu. Alhasil, emosi orang tua terpancing dan tak jarang hingga terlontar ucapan bernada tinggi dan menginginkan anak mereka belajar kembali di sekolah.

Kejadian ini memberikan kesadaran kepada orangtua bahwa mendidik anak itu ternyata tidak mudah, diperlukan ilmu dan kesabaran yang sangat besar. Nah terkait hal ini, BP PAUD DIKMAS BANTEN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN menyelenggarakan acara Parenting, Kelas Orang Tua Berbagi #7, Rumahku Sekolahku (25/11), dengan menghadirkan Nyi Mas Diane Wulansari Motivator Speaker dan  Praktisi Pendidikan Keluarga yang juga seorang Penulis Buku Anak & Keayah Bundaan Talent Observer  untuk menjelaskan bagaimana cara mengelola emosi orang tua saat mendampingi anak belajar dari rumah (BDR) di masa pandemi Covid -19.

Nyi Mas Diane Wulansari Motivator Speaker dan  Praktisi Pendidikan Keluarga yang juga seorang Penulis Buku Anak & Keayah Bundaan Talent Observer. Doc: Bharata Radio

Sebelum mengetahui bagaimana cara mengelola emosi, dalam kesempatan itu Nyi Mas Diane Wulansari cucu dari Imam Besar  H. Mas Muhammad Mukri  yang akrab disapa dengan Dee menjelaskan, secara bahasa (etimologi) emosi bersumber dari bahasa Latin yakni “Movere” yang artinya menggerakkan, bergerak. Kemudian ditambah awalan e- menjadi “emovere” yang artinya bergerak menjauh.  Mengutip pengertian emosi dari Daniel Goleman, definisi emosi menurut Daniel Goleman adalah setiap kegiatan atau pergolakan perasaan, pikiran, nafsu, seitp keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Ia menyatakan emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dari serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

 Dee menambahkan, secara umum emosi di klasifikasikan menjadi 2 bentuk yaitu Emosi Positif Dan Emosi Negatif”.

Emosi Positif
Emosi positif berarti mengekspresikan sebuah evaluasi atau perasaan menguntungkan, misalnya seperti bahagia, senang, ceria, damai, rasa syukur.

Emosi Negatif
Emosi negatif berarti mengekspresikan sebuah evaluasi atau perasaan merugikan, misalnya seperti sedih, menangis, marah, kecewa, benci dan lain sebagainya.

Lalu yang menjadi fokus dalam hal ini adalah Bagaimana cara orang tua mengelola emosi dan apa yang seharusnya dilakukan untuk menjaga emosi positive ayah dan bunda sekeluarga saat anak BDR ? Hal- hal penting yang harus dilakukan adalah :

1. Memahami tugas utama mengajarkan anak adalah tugas orang tua.

Orang tua memiliki tanggung jawab yang harus dipenuhi kepada anak – anak mereka. Orang tua harus bisa mendidik, menyayangi dan melindungi anak – anaknya dengan baik terlebih dimasa pandemi. Tugas orang tua di dalam keluarga sangat penting dan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Nah, karena mendidik dan membimbing anak sangat penting dan tidak cukup dilakukan oleh ibu saja ataupun ayah saja. Maka anak memerlukan sosok ayah dan ibu (sosok keduanya) bukan salah satu dari mereka saja. Oleh karena itu harus ada kerja sama antara keduanya.

2. Memahami pembelajaran daring adalah salah satu media belajar anak dimasa pandemi.

Pada masa pandemi pasti sering kali mendengar istilah daring, apalagi pada metode pembelajaran pada anak sekolah baik mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan ke jenjang perkuliahan. Daring sendiri berarti sistem belajar online atau virtual tanpa tatap muka langsung. Dalam pembelajaran daring orang tua memiliki peran penting dalam mengoptimalkan pembelajaran daring.

Orang tua berperan membantu memberi pemahaman pada anak tentang apa yang ia pelajari. Orang tua diharuskan untuk mendampingi anak saat proses belajar. Hal ini bertujuan untuk menciptakan keseriusan serta pengawasan terhadap proses belajar. Orang tua juga berperan menumbuhkan motivasi belajar yang tinggi. Karena tanpa adanya rasa motivasi belajar maka pembelajaran daring tidak akan berjalan optimal.

3. Jaga mood anak tetap bagus .

  1. Buat suasana yang menyenangkan dan nyaman.

 Kenyamanan memang faktor penting agar mood belajar anak menjadi bagus. Suasana yang tenang membuat konsentrasi tidak mudah pecah sehingga anak dapat menyerap pelajaran dengan cepat.

  1. Jaga dan tularkan positive vibe.

Untuk meningkatkan mood, anak harus memiliki pemikiran yang positif. Dan untuk mewujudkan kondisi tersebut, orangtua adalah kuncinya.  Ciptakanlah itu dari diri anda terlebih dahulu

Khususnya para bunda, jangan lelah untuk menyediakan ‘stok’ sabar dalam membimbing anak belajar di rumah. Jadikan ini sebagai pengalaman terbaik bagi kita dan si kecil. Jangan mudah tersulut emosi. Utarakan hal – hal yang baik kepada anak. Jika anak melakukan kesalahan jangan sebut kesalahannya, tapi jabarkanlah harapan anda kepada anak.

4.Peluk anak, katakan “Bunda/ Ayah sayang kamu ”, dan hadirlah.

Jika kita melihat hal-hal tidak biasa terjadi pada anak, jangan ragu memeluknya berkali-kali dalam sehari untuk meyakinkan anak bahwa kondisi tidak ideal yang dijalani saat ini adalah upaya menuju masa depan lebih indah. Manfaat dari sering memeluk anak “ pelukan menumbuhkan rasa sayang, cinta, dihargai dan senang”.

5. Apresiasi pencapaian anak.

Apresiasi sendiri merupakan penilaian atas suatu usaha atau pencapaian. Apresiasi tidak harus diberikan dalam wujud benda, tetapi bisa juga diberikan dalam bentuk pujian, ucapan selamat, atau ungkapan kebanggaan. Apresiasi terhadap hal-hal baik yang dilakukan, sesederhana atau sekecil apa pun itu, menjadi penting untuk diberikan.

Oleh karena itu, pemberian apresiasi kepada anak dalam bentuk sekecil apapun memiliki peranan yang sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak, khususnya pada aspek pembentukan karakter. Memberikan apresiasi kepada anak tidak hanya dilakukan ketika anak berhasil mencapai sesuatu yang besar. Bahkan ketika anak tidak bisa mencapai keinginannya, atau gagal mencapai sesuatu, tetap berikan dorongan semangat berupa apresiasi, bukan malah makin merendahkan kepercayaan diri anak dengan memarahinya. Ketahuilah, bahwa anak juga sudah berusaha dengan cara mereka masing-masing.

Dampak positif yang akan diterima anak bila orang tua atau gurunya sering memberikan apresiasi terhadap usaha dan hasil-hasil kecil yang dicapainya:

Menumbuhkan rasa percaya diri. Dengan usahanya dihargai dan diperhatikan, anak akan merasa lebih percaya diri dan tidak takut melakukan kesalahan, karena anak sudah tau bahwa melakukan kesalahan adalah hal yang wajar dan anak tidak perlu takut akan di marahi.

Kreatif dan inovatif. Memberikan apresiasi sama halnya dengan memberikan dorongan semangat untuk anak. Bagi anak, mendengar orang tuanya memuji hasil usahanya akan membuat anak lebih semangat untuk terus berkarya, oleh karena itu jiwa kreatifitas dan inovatif anak dapat berkembang dengan maksimal.

Menumbuhkan rasa peduli dan peka terhadap  lingkungan sekitar. Dengan sering menerima apresiasi dari orang tua atau gurunya, anak akan tumbuh dengan banyak energi positif selain itu, karena terbiasa diperhatikan oleh orang tua atau gurunya, anak juga akan memiliki kebiasaan tersebut dan cenderung lebih peduli dan peka dengan lingkungan di sekitarnya. Karena kebiasaan orang tua akan cenderung menurun ke anak, karena anak memiliki sifat suka meniru.

Meningkatkan jiwa kompetitif. Dengan sering menerima apresiasi dari hasilnya baik berhasil ataupun gagal, anak akan merasa tenang karena tau bahwa setiap usah yang ia lakukan, diperhatikan dan dihargai oleh orang tuanya, oleh karena itu, anak tidak akan merasa takut gagal, yang mana rasa takut itu yang biasanya menggiring anak atau siswa untuk melakukan kecurangan demi mendapatkan hasil yang baik.

Memberikan apresiasi terhadap seluruh usaha dan pencapaian anak, baik yang berhubungan dengan prestasi akademik ataupun bukan, bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk perhatian orang tua kepada anaknya, juga guru terhadap muridnya.

6. Kenali , pahami, lihat  dan tanggapi bahasa tubuh /ekspresi anak.

Orang tua perlu mengenali bahasa tubuh si anak ketika sedang berkomunikasi untuk mengetahui apa yang sebenarnya ada dalam pikiran si anak dan apa yang akan dilakukan. Seperti dikatakan Albert Mehrabian, seorang psikolog dari University of California (UCLA) Amerika Serikat. Ia menyimpulkan, orang-orang cenderung lebih percaya terhadap apa yang ditampilkan seseorang melalui gerak-gerik tubuhnya atau yang disebut bahasa tubuh dari apada apa yang diucapkannya. Bahasa tubuh bisa dikenali dengan memperhatikan gerakan tubuh yang meliputi ekspresi wajah, kontak mata, isyarat dan sikap tubuh.

Dengan memahami komunikasi non-verbal, maka hal ini akan memudahkan Anda berkomunikasi dan memahami apa yang sedang dirasakan oleh anak dan bagaimana anda meresponnya.

7. Buatlah jadwal harian yang super fun.

Yakinkan anak bahwa rutinitas di saat pandemi adalah gaya hidup baru. Buatlah porsi seimbang agar anak punya waktu untuk belajar, beraktifitas fisik, dan bermain. Mereka juga punya waktu istirahat yang fleksibel yang tidak pernah mereka miliki sebelum pandemi. Sebelum memulai hari berikutnya, Buat kesepakatan dan recalling harian bersama anak, tanyakan kepada anak tentang evalusi dari hasil belajar hari ini dan susunlah rutinitas yang beragam serta menarik. Dengan rutinitas yang beragam, anak diharapkan tidak bosan bahkan menambah lebih banyak pengetahuan dan keterampilan dibandingkan sebelum pandemi. Make it fun and cheerful!

8. Jalin komunikasi efektif dengan guru dan pihak sekolah mengenai kendala, pencapaian dan juga tantangan yang sedang di hadapi oleh sang anak.

Pembelajaran daring di rumah pun membutuhkan dukungan orang tua. Jika pada pembelajaran di sekolah orang tua hanya bertanggung jawab mengantarkan anaknya maksimal sampai masuk gerbang sekolah, kini peran itu sedikit bergeser. Orang tua diharapkan dapat memantau pembelajaran daring putra-putrinya di rumah masing-masing.Pada pembelajaran tatap muka di sekolah sebagian besar atau jarang bahkan enggan terciptanya komunikasi antara guru dan orang tua. Kini pada pembelajaran daring pola komunikasi itu perlu diubah. Orang tua dan guru pun diharapkan lebih sering dan efektif lagi dalam komunikasi.

Diharapkan dengan adanya tantangan dan situasi seperti saat ini pembelajaran daring dapat terlaksana secara optimal meskipun terkadang kelakuan anak kita dirumah saat BDR menjadi salah satu ujian.

Saat orang tua memahami bahwa Virus Corona berbahaya dan belum usai, dan saat orang tua memahami bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama. Maka orang tua benar-benar aktif mendampingi buah hatinya. Adapun orang tua, anak dan sekolah adalah mitra kerja sama dalam membangun generasi emas.

 

 

 

 


Komentar