Selasa, 18 Oktober 2022 10:24:30 WIB

Perusahaan di Guangxi Perkuat Rantai Pasok Industri dengan ASEAN
Tiongkok

Redaksi - Radio Bharata Online

banner

Orang-orang mengunjungi Pameran Tiongkok-ASEAN ke-19 di Pusat Pameran dan Konvensi Internasional Nanning di Nanning, ibu kota Daerah Otonomi Guangxi Zhuang Tiongkok selatan, pada 16 September 2022. (Xinhua/Huang Xiaobang)

GUANGXI, Radio Bharata Online - Sejumlah perusahaan yang berbasis di Guangxi, Tiongkok selatan terus berupaya memperkuat rantai pasokan industri ke berbagai negara yang tergabung dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, merupakan satu-satunya daerah setingkat provinsi di Tiongkok yang terhubung dengan ASEAN baik melalui laut maupun daratan.

Dikutip dari Xinhua, Guangxi terus berupaya memperdalam kerja sama dengan ASEAN serta mempercepat pembangunan dan penyempurnaan rantai industri dan pasokan lintas perbatasan terhadap ASEAN dengan bidang investasi yang terus diperluas. Hal tersebut disampaikan Lan Tianli, Kepala Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, pada sebuah acara baru-baru ini.

Lan menyatakan, selama beberapa tahun belakangan ini, Guangxi memanfaatkan China-ASEAN Expo, Konferensi Tingkat Tinggi Bisnis dan Investasi Tiongkok-ASEAN sebagai platform penting untuk terus memperdalam kerja sama industri dengan ASEAN.

Dulu, kerja sama kedua pihak terutama antara industri pertanian, industri ringan, dan industri kimia. Kini, lebih beralih ke industri otomotif, mesin peralatan konstruksi, logam non-ferro (nonbesi), dan sebagainya.

Proyek Two Countries Twin Parks China-Malaysia, Kawasan Industri Terpadu Tiongkok-Indonesia, dan Koridor Ekonomi Brunei-Guangxi mencapai keberhasilan yang menonjol.

Menurut Zou Aibing, Kepala Divisi Perencanaan Departemen Perindustrian dan Teknologi Informasi Guangxi, otomotif sudah menjadi industri utama dari Guangxi yang berkembang di ASEAN. Salah satu perwakilannya adalah SGMW.

 SGMW menerapkan strategi internasionalnya yang terdiri dari ekspor mobil jadi, perakitan suku cadang (di luar negeri), dan pembangunan basis produksi kendaraan, dan sudah berakar di Indonesia serta mengembangkan bisnisnya di pasar Asia Tenggara.

Alih-alih sekadar mengekspor mobil seperti di masa lalu, bisnis internasional merek mobil asal Tiongkok itu sudah beraneka ragam. Kini, SGMW Indonesia sudah memiliki kemampuan produksi 120.000 unit mobil jadi per tahun.   

Perusahaan asal Guangxi juga bergerak di bidang material industri kimia baru yang ramah lingkungan, material baru logam tingkat tinggi, dan mesin peralatan. Salah satu contohnya adalah Hengyi Group Co., Ltd. yang mengembangkan proyek integrasi kilang-petrokimia (refining-petrochemical integration) di Brunei serta membangun proyek serat kimia tingkat tinggi yang bersifat ramah lingkungan di Kota Qinzhou di Guangxi.

Dengan demikian, sebuah model kerja sama industri "Basis Ganda Brunei-Qinzhou", yang mengintegrasikan rantai hulu-hilir dan berkembang secara terkoordinasi, berhasil terbentuk.

 Guangxi adalah salah satu contoh daerah di Tiongkok yang memperluas kerja sama dengan ASEAN. Menurut wakil ketua Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Tiongkok, Lin Nianxiu, perdagangan Tiongkok-ASEAN mencatat pertumbuhan yang signifikan.

Nilai perdagangan kedua pihak mencapai 627,58 miliar yuan (1 yuan = Rp2.145) dalam delapan bulan pertama tahun ini, naik 13,3 persen secara tahunan (year on year).

Khususnya dalam kerja sama investasi kapasitas produksi, Tiongkok dan negara-negara ASEAN berupaya bersama untuk menerapkan Pernyataan Bersama Tiongkok-ASEAN tentang Kerja Sama Kapasitas.

Kerja sama kapasitas Tiongkok-ASEAN berfokus pada pemulihan serta menyoroti pembangunan berkelanjutan dan mencapai keberhasilan yang positif, menjadi teladan keberhasilan kerja sama regional.

Editor: Thomas Rizal

Komentar

Berita Lainnya