Sabtu, 28 September 2024 10:30:55 WIB
Tiongkok Harapkan Persepsi Rasional dari Washington tentang Hubungan Bilateral
International
Eko Satrio Wibowo

Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi berjabat tangan dengan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken (CMG)
New York, Radio Bharata Online - Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, mengatakan kepada Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, di New York pada hari Jum'at (27/9) bahwa alih-alih melakukan dua hal sekaligus dengan mencari cara untuk mengekang di satu sisi dan meminta kerja sama di sisi lain, Amerika Serikat harus mengambil kebijakannya terhadap Tiongkok dari persepsi rasional tentang Tiongkok.
Wang, yang juga anggota Biro Politik Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok, mengatakan Amerika Serikat tidak boleh selalu mendekati Tiongkok dengan dua wajah: Di satu sisi mengepung dan menekan Tiongkok secara terang-terangan, dan di sisi lain, berdialog dan bekerja sama dengan Tiongkok seolah-olah tidak ada yang salah.
Karena Amerika Serikat telah menyatakan berkali-kali bahwa mereka tidak berniat untuk berkonflik dengan Tiongkok, maka pada dasarnya, mereka perlu membangun persepsi rasional tentang Tiongkok, dan menemukan cara yang tepat untuk bergaul dengannya, kata diplomat veteran Tiongkok tersebut.
Amerika Serikat perlu melakukan dialog dengan rasa hormat, memajukan kerja sama dalam semangat timbal balik, dan menangani perbedaan dengan sangat hati-hati, daripada bertindak sesuka hati karena dianggap tepat dari posisi yang kuat atau menggunakan kesalahan sebelumnya sebagai alasan untuk membuat lebih banyak kesalahan, kata Wang di sela-sela sesi ke-79 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Mengenai masalah Taiwan, Wang mengatakan bahwa "jika Amerika Serikat benar-benar berharap untuk melihat perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan, mereka harus mematuhi prinsip Satu-Tiongkok, melaksanakan tiga Komunike Bersama Tiongkok-AS, berhenti mempersenjatai Taiwan, secara terbuka menentang 'kemerdekaan Taiwan', dan mendukung penyatuan kembali Tiongkok secara damai".
Wang melanjutkan dengan mengatakan bahwa Tiongkok "dengan tegas menentang penindasan AS dalam perdagangan dan teknologi", dan bahwa Tiongkok "tidak akan pernah menerima tudingan oleh para pengkhotbah hak asasi manusia, apalagi campur tangan dalam urusan internal Tiongkok dengan dalih hak asasi manusia".
Menyoroti pentingnya pertukaran antarmasyarakat antara Tiongkok dan Amerika Serikat, Wang mendesak pihak AS untuk "menghilangkan hambatan dengan tindakan nyata".
Wang mengartikulasikan posisi tegas Tiongkok terkait masalah Laut Tiongkok Selatan. Ia mengatakan bahwa Tiongkok tetap berkomitmen untuk menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan konsultasi dengan negara-negara yang terkait langsung.
Amerika Serikat seharusnya tidak menimbulkan masalah di Laut Tiongkok Selatan, atau melemahkan upaya negara-negara regional untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di sana, imbuh Wang.
Mengenai masalah Ukraina, Wang mengatakan posisi Tiongkok sudah jelas. Tiongkok telah berkomitmen untuk mempromosikan perundingan demi perdamaian dan telah berupaya menuju penyelesaian damai.
Amerika Serikat seharusnya berhenti menjelek-jelekkan, menjadikan kambing hitam, dan secara sewenang-wenang menjatuhkan sanksi kepada Tiongkok, dan berhenti menggunakan masalah ini untuk menciptakan permusuhan dan memicu konfrontasi berbasis kubu, kata Wang.
Kedua pihak sepakat bahwa pertemuan itu jujur dan substantif, dan bahwa Tiongkok dan Amerika Serikat perlu menemukan cara untuk hidup berdampingan satu sama lain dalam damai di masa depan yang tidak terbatas.
Kedua pihak akan terus melaksanakan kesepahaman bersama yang penting dari kedua presiden di San Francisco pada bulan November lalu, terlibat dalam dialog dan kerja sama, serta mengelola perbedaan dengan baik untuk mencapai perkembangan hubungan bilateral yang stabil, sehat, dan berkelanjutan.
Kedua pihak sepakat untuk menjaga komunikasi mengenai isu-isu yang menjadi perhatian internasional dan regional, serta mengadakan putaran konsultasi baru mengenai urusan Asia-Pasifik pada waktunya.
Komentar
Berita Lainnya
Politisi Jerman Kritik Parlemen Eropa karena Tetap Operasikan Dua Kompleksnya di Tengah Krisis Energi International
Jumat, 7 Oktober 2022 8:37:55 WIB

Patung Kepala Naga dari Batu Pasir Berusia Ratusan Tahun Ditemukan di Taman Angkor Kamboja International
Jumat, 7 Oktober 2022 16:2:20 WIB

Tiga Ekonom Internasional Raih Hadiah Nobel Ekonomi 2022 International
Selasa, 11 Oktober 2022 12:41:19 WIB

Peng Liyuan serukan upaya global untuk meningkatkan pendidikan bagi anak perempuan International
Rabu, 12 Oktober 2022 8:34:27 WIB

Sekjen PBB Serukan Cakupan Sistem Peringatan Dini Universal untuk Bencana Iklim International
Sabtu, 15 Oktober 2022 8:59:46 WIB

Jokowi Puji Kepemimpinan Xi Jinping: Dekat dengan Rakyat, Memahami Betul Masalah yang Dihadapi Rakyat International
Senin, 17 Oktober 2022 13:29:21 WIB

Forum Pangan Dunia ke-2 Dibuka di Roma International
Selasa, 18 Oktober 2022 23:8:41 WIB

Australia Janji Pasok Senjata Buat Indonesia International
Jumat, 21 Oktober 2022 9:11:43 WIB

AS Pertimbangkan Produksi Senjata Bersama Taiwan International
Sabtu, 22 Oktober 2022 9:6:52 WIB

Pemimpin Sayap Kanan Giorgia Meloni Jadi PM Wanita Pertama Italia International
Sabtu, 22 Oktober 2022 11:57:58 WIB

Krisis Di Inggris Membuat Jutaan Warga Sengaja Tidak Makan Biar Hemat International
Minggu, 23 Oktober 2022 7:54:8 WIB

Gunung Kilimanjaro di Tanzania Dilanda Kebakaran International
Minggu, 23 Oktober 2022 15:24:53 WIB

Para Pemimpin Negara Ucapkan Selamat atas Terpilihnya Kembali Xi Jinping International
Senin, 24 Oktober 2022 11:47:39 WIB

Menlu ASEAN Akan Gelar Pertemuan Khusus di Indonesia Bahas Myanmar International
Senin, 24 Oktober 2022 16:57:17 WIB

Konser di Myanmar Berubah Menjadi Horor Saat Serangan Udara Militer Tewaskan Sedikitnya 60 Orang International
Selasa, 25 Oktober 2022 10:2:29 WIB
